Ad Hoc Network

22 11 2012

Definisi ad hoc network adalah desentraliasi dari jaringan wireless, disebut ad hoc network karena tidak bergantung pada infrastruktur yang sudah ada, seperti router dalam jaringan kabel ataupun Access Point pada jaringan nirkabel. Dalam Ad hoc network, setiap node bertugas dalam merouting data kepada node lain, jadi penentuan node mana yang mengirimkan data dibuat secara dinamis berdasarkan konektivitas dari jaringan itu sendiri.

Sifat desentralisasi, protokol routing dinamis, dan mudah untuk diterapkan menjadikan ‘jaringan ad hoc’ cocok untuk diimplementasikan disaat jaringan terpusat tidak dapat digunakan (situasi darurat seperti bencana alam atau konflik militer). Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pakar jaringan mengalihkan perhatian mereka dari jaringan terpusat – seperti Internet dan jaringan telepon seluler – dan berpindah ke ad hoc network.

Di Internet, tanggung jawab untuk mengarahkan lalu lintas data terletak pada perangkat yang disebut router. Penyedia layanan Internet memantau arus lalu lintas di jaringan mereka, dan jika ada kemacetan di satu tempat, mengubah/merevisi setting router ke pengaturan yang sesuai. Dengan jaringan telepon seluler, dua orang dalam satu lingkungan bisa saling berbicara melalui telepon, tetapi mereka tidak bertukar data secara langsung. Sebaliknya, mereka mengirim data (percakapan) ke menara pemancar yang akan menentukan data itu harus dibawa kemana – seperti halnya terjadi juga bagi ribuan pengguna telepon seluler lain di sekitarnya.

Dalam jaringan ad hoc, tidak ada base station, dan tidak ada pengawas yang memantau kinerja jaringan secara keseluruhan. Sensor yang digunakan di jaringan ad hoc akan aktif dan mencoba untuk menentukan berapa banyak sensor aktif lainnya yang berada dalam jangkauan komunikasi. Bersama-sama, sensor kemudian mengumpulkan informasi apapun yang mereka butuhkan untuk melakukan tugas kolektif mereka.

Karena perangkat genggam seperti smartphone ataupun tablet pc menjadi lebih canggih dan diminati orang, prospek bahwa mereka dapat mengatur diri mereka sendiri ke dalam ad hoc network juga menjadi lebih menarik. Bisa kita bayangkan, misalnya, ribuan orang di suatu lingkungan bergabung dalam ad hoc network, dan saling berbagi data seperti video sehingga ribuan orang tersebut dapat menonton video tersebut secara bersamaan tanpa harus membebani jaringan data.

Tapi sampai ditemukan applikasi yang dapat berperan sebagai pengatur dari ad hoc network yang dapat menarik orang-orang untuk membuka akses teleponnya untuk berbagi jaringan secara langsung melalui ad hoc dengan orang sekitarnya; hal tersebut belum bisa dilakukan. Taken from : IT infoteknologi .com





GooGle Maps

30 08 2011

Gunakan fasilitas Google Maps sebagai salah satu tools analisis Spasial. Map di atas cukup interaktif, gunakan menu “Map”, “Sat” (Satellite Imagery), “Ter” (Terrain), “Earth”, Zoom In dan Zoom Out serta move around pada Maps untuk melakukan interaksi spasial.

Selamat mencoba. Nanang Setiawan.





TRANSFORMASI KOORDINAT

27 08 2011

Transformasi koordinat digunakan untuk merelasikan sistem koordinat tanah dengan peta atau layer data atau untuk meng-adjust suatu layer data sedemikian rupa sehingga layer tersebut dapat di-overlay-kan secara tapat di atas layer(s) yang lain. Prosedur yang digunakan untuk mengaplikasikan koreksi ini disebut dengan istilah registrasi – beberapa layer yang berbeda diregistrasikan terhadap sistem koordinat bersama atau terhadap salah satu layer yang dianggap sebagai peta dasar (standard). Layer(s) yang mencakup area yang sama harus diregistrasi sedemikian rupa sehingga setiap lokasi yang terdapat di dalam overlay memiliki koordinat (peta) yang sama. Di bidang pengolahan citra dan penginderaan jauh, sering kali, proses registrasi terhadap suatu citra dilakukan dengan bantuan citra lain (citra referensi) yang telah memiliki koordinat bumi (atau koordinatnya telah dianggap benar) – registrasi citra. Walaupun demikian, jika tujuan prosesnya hanya sekedar untuk ‘mendatarkan’ geometri citra (tetapi masih belum dapat menghapus distorsi akibat pergeseran relief topografi) dan tidak memerlukan citra referensi, tetapi memerlukan titik-titik kontrol tanah (GCPs), maka prosesnya sering disebut sebagai rektifikasi.

By. Nanang Setiawan, 27 Agustus 2011





PERKEMBANGAN TEORI PERENCANAAN KOTA SAMPAI DENGAN MASA POSTMODERN

17 04 2011

Teori perencanaan kota mulai dikenal sejak tahun 1945, yaitu sejak Perang Dunia Pertama, dan mengalami perubahan yang signifikan sejak jaman Postmodern, yaitu sekarang ini. Menurut Nigel Taylor (1998), perubahan yang mendasar adalah pada paradigma perencanaan kota itu sendiri. Pada awal lahirnya teori perencanaan kota, perencanaan kota dipakai sebagai alat untuk menggambarkan ide-ide sosial dari penguasa saat itu. Pada awal abad 21, perubahan banyak terjadi pada kultur dan nilai-nilai yang mempengaruhi paradigma perencanaan kota.
Ada tiga konsep pemikiran yang mendasar pada teori perencanaan kota tahun 1945, khususnya di Eropa, yaitu:
1. perencanaan kota sebagai perencanaan fisik kota
2. perancangan kota sebagai esensi dari perencanaan kota
3. ketepatan spasial dalam bentuk ‘gambar’ ataupun ‘blue print’ sebagai produk akhir dari suatu perencanaan kota sangat dituntut (Taylor, 1998,p.5).
Ketiga konsep perencanaan kota diatas bertahan sampai Perang Dunia Kedua, dimana perencanaan kota lebih dianggap sebagai bagian dari arsitektur atau seni, ruang kota seperti layaknya kanvas yang luas. Meskipun konsep tentang perencanaan kota sebagai produk fisik masih tetap diakui sampai sekarang ini. Perubahan ini dapat dikatakan sebagai perubahan yang bersifat internasional: perencanaan kota adalah arsitektur dalam skala yang lebih luas. Sehingga konsekuensinya, profesi perencana kota sebagian besar adalah juga arsitek.
Sejak 1960-an, perencanaan kota lebih dilihat sebagai suatu sistem dari pada produk fisik. Yaitu merencanakan sistem suatu kota yang pada dasarnya merupakan akumulasi dari sistem-sistem yang lebih kecil di dalam kota yang saling berhubungan, seperti jaringan jalan kota, dan sistem jaringan air kota. Konsep ini lebih didasari pada nilai sosial dan kegiatan ekonomi dari kota, yang pada akhirnya
melibatkan banyak keilmuan dalam merencanakan suatu kota.
Hingga akhir 1960, yang dianggap sebagai awal dari jaman Postmodern, perencanaan kota lebih cenderung pada perencanaan yang komprehensif, yang mempertahankan keragaman dan pluralisme. Masyarakat dengan bebas menentukan nilai-nilai unik yang mereka miliki, dan menjadi pertimbangan yang signifikan pada perencanaan kota. Bisa diambil contoh yaitu proses pengambilan keputusan terhadap perencanaan suatu kawasan di banyak negara maju yang saat ini lebih bersifat bottom-up.
Perkembangan teori perencanaan kota sangat tergantung pada perkembangan kota itu sendiri (urban development). Paul Balchin, David Isaac, dan Jean Chen (2000), menggambarkan siklus perkembangan kota sebagai kurva yang meningkat sejak abad 18 sampai pertengahan abad 19. Kurva ini bisa dijelaskan sebagai berikut:
1. Proses urbanisasi.
Yaitu proses tumbuhnya kota karena perpindahan penduduk dari rural ke urban yang diawali dengan adanya Revolusi Industri pada abad 18.
2. Proses urbanisasi atau sub-urbanisasi.
Proses urbanisasi menimbulkan berkembangnya sektor jasa yang cukup pesat dan kegiatan manufaktur yang cenderung memilih lokasi pinggiran/ luar pusat kota, sehingga pada tahap ini menyebabkan tumbuhnya suburbansuburban.
3. Proses sub-urbanisasi.
Proses sub-urbanisasi yang diikuti dengan menurunnya populasi di pusat kota.
4. Proses re-urbanisasi atau de-urbanisasi.
Yaitu proses yang disebabkan oleh berkembangnya suburban menjadi urban.


Gambar 1. Kurva Perkembangan Kota (Urban Development) (Balchin et al., 2000, p.246)

Dilihat dari sekuen waktu teori perkembangan kota diatas, teori perencanaan kota mulai berkembang pada tahap urbanisasi dan suburbanisasi, dimana sudah dikenal adanya pertumbuhan daerah pinggiran kota. Pusat kota tumbuh pesat akibat Revolusi Industri (urbanisasi) dan dipicu dengan rusaknya kota karena Perang Dunia Pertama, penguasa kota baru menyadari pentingnya merencanakan suatu kota, dengan menganggap perencanaan kota sebagai bagian dari arsitektur yang lebih makro. Proses sub-urbanisasi mengikuti proses urbanisasi, selama Perang Dunia Kedua, memandang kota lebih kepada integrasi dari banyak system didalam kota, termasuk sistem yang menyatukan pusat kota dan daerah pinggiran yang mulai tumbuh. Pada proses re-urbanisasi atau deurbanisasi, yaitu sejak abad 21, lebih banyak dipengaruhi oleh issue globalisasi.

DAFTAR PUSTAKA
Balchin, P., N., Isaac, D. and Chen, J., Urban economics; a global perspective, Palgrave, Hampshire, 2000.
Taylor, N., Urban planning since 1945, SAGE Publications, New Delhi, 1998.
Damayanti, Rully. Pengaruh globalisasi terhadap perencanaan kota (studi kasus kota New York, London dan Tokyo (Global Cities)). Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 31, No. 1, Juli 2003: 38-42





ENERGI BARU

8 04 2011

# Clean Coal Technology (CCT)
> Underground Coal Gasification and Generetion (UCGG) adalah mengkonversi batu bara di dalam tanah tanpa dengan menambang
# Nuclear Energy
# Fuel Cell
# Pump Storage





TREND SEKTOR INDUSTRI PERTAMBANGAN DAN ENERGI

8 04 2011

# Aspek perlindungan lingkungan
# Mekanisme dan pengurasan pada sumber daya alam yang tidak terbarukan
# Konversi pada produk yang bernilai tambah lebih tinggi
# Peningkatan kualitas SDM
# Dukungan manajemen dan finansial





TUGAS ANALISIS DENGAN GIS

24 01 2011

STUDI KASUS

Pemerintah Daerah melaksanakan sebuah proyek penanggulangan bencana. Analisis yang digunakan berdasarkan pada data-data spasial dan GIS sebagai alat analisisnya. Berikut adalah garis besar dari pekerjaan ini :

Tema                   : Mencari Tingkat Kerentanan Bahaya Longsor

Sumber data     : Peta Hujan, Peta Penggunaan Lahan, Peta Kelas Lereng, Peta Jenis Tanah

Tabel skor pada masing-masing data spasial :

Penggunaan Lahan :

1. Lahan Terbuka; skor 10

2. Permukiman; skor 10

3. Sawah; skor 25

4. Ladang; skor 25

5. Hutan; skor 50

6. Perkebunan; skor 50

7. Permukiman; skor 50

Kelas Lereng :

1. Curam; skor 10

2. Terjal; skor 10

3. Landai; skor 25

4. Miring; skor 50

Tanah :

1. Grumusol; skor 10

2. Allivial; skor 25

3. Latosol; skor 50

Curah Hujan :

1. 1000 – 1500; skor 25

2. < 1000; skor 50

3. > 1500; skor 10

Kelas Tingkat Bahaya yang dicari :

-          Area Kelas Rentan Longsor Rendah

-          Area Kelas Rentan Longsor Sedang

-          Area Kelas Rentan Longsor Tinggi

TUGAS :

Lakukan analisis kerentanan tersebut dengan menggunakan GIS untuk mencari area dari masing-masing tingkat bahaya longsor di wilayah penelitian.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.